Ora bosen-bosen

 *Tidak bosan2nya 

1. Masker itu bukan semata2 agar kamu tidak ketularan covid. Masker itu biar kamu tidak menulari orang lain. Paham? Karena boleh jadi, kamu itu sudah kena virus tsb. Tapi kamu baik2 saja, karena imun kamu lagi bagus, Tuhan lagi sayang sama kamu. Nah, orang lain belum tentu. Ada yang komorbid, punya diabetes, asma, jantung, dll. Sekali mereka kena, bisa serius dampaknya. Mati. Sudah banyak yang begitu. Jadi masker yg kamu kenakan itu biar kamu tidak menulari orang lain. Termasuk jaga jarak, cuci tangan. ITU AGAR KAMU TIDAK nulari orang lain--pun agar kamu juga terlindungi.

2. Masker itu tidak ada urusannya dengan pemerintah. Wah, NKRI itu baru ada tahun 1945. Sebelumnya kagak ada. Pandemi sudah terjadi berkali2, berkali2 sejak ratusan tahun lalu sebelum NKRI ada. Sejarah mencatat, orang2 dulu telah tahu gunanya masker, jaga jarak, lockdown, dll. Maka, mau pemerintah itu plintat-plintut, diskriminatif, penegakan hukumnya kacau balau, mudik beda dengan pulang kampung, dll, dll, KITA TETAP pakai masker, jaga jarak, cuci tangan. Kenapa? Karena kita melindungi sekitar. Menjaga keselamatan sekitar.

3. Mol rame, pasar rame, tapi kok sekolah masih ditutup? Nah, tergantung, maksudmu sekolah yg mana? Karena sudah banyak sekolah2 yg sudah buka, masuk lagi. Banyak pondok pesantren malah sudah masuk sejak lama. Nah, hanya karena pemerintah 'pengecut' membuka sekolah2, maka jangan kamu jadikan alasan tidak mau pakai masker. Boleh kritik pemerintah soal inkonsistensi ini, silahkan. Tapi KAMU tetap pakai masker.

5. Tapi itu orang India kok masuk Indonesia. Itu test rapid antigen pakai yang bekas. Dll. Lagi2, silahkan kamu kritik. Duh Dik, page Tere Liye ini bahkan merilis kritik soal ini berkali2. Dan sekali diposting, bisa 2-3 juta people reached. Tapi perhatikan baik2, setiap kali Tere Liye menulis begituan, tetap diingatkan semua: ayo pakai masker, jaga jarak, cuci tangan. Karena SEKALI LAGI, protokol kesehatan itu tdk ada urusannya dgn pemerintah. Mereka mau foto2 nggak pakai masker, asyik menunjukkan 'kebodohan' tsb, silahkan. Tapi kamu jangan. Jangan turunkan levelmu.

6. Mati hidup di tangan Tuhan. Kalau sudah takdir, pasti mati. Itu benar. Tapi kalau kamu memang mengaji dgn betul, kamu pasti tahu yg namanya ikhtiar. Masker itu adalah ikhtiar, usaha, agar terhindar dari penyakit. Secara akidah, keimanan kita tetap utuh. Kita mengimani takdir Tuhan, BUKAN mengimani masker. Tapi sungguh, orang yg imannya memang top, dia bersedia ber-ikhtiar. Karena itu perintah agama.

7. Pandemi ini bisnis. Pandemi ini lebay. Lihat Bill Gates tidak pernah pakai masker. Adik2 sekalian, berhentilah kalian share foto2 tidak jelas, video2 tdk jelas, apalagi dari akun2 medsos yg apa sih karya orang tsb? Lama2 nanti orang joget di tik tok kalian jadikan argumen corona tdk ada. Bill Gates tdk pernah pakai masker? Aduh, kamu kenal sama dia? Pun termasuk mengunyah informasi jika India baik2 saja. Ketahuilah, yg nyebar informasi itu sama kayak kamu. Pembantah masker, jadilah dia ngarang2 saja.

Terakhir, setelah page ini 48 jam terus menggelontorkanpostingan ttg masker, sebagai ihktiar ikutan menjaga saudara2 kita menjelang libur lebaran, biar pandemi ini cepat terkendali; maka jika kamu masiiih saja tidak mau terima, itu masalah kamu. Kok kamu masih like dan follow page ini? Kalau saya jadi kamu, saya sih sudah lama berhenti baca, bukan malah terus komen.

Saya sih yakin 100%, pembaca buku2 Tere Liye, mereka selalu disiplin prokes. Mereka mungkin sering mengkritik pemerintah, protes, komplain, tapi saat harus mengenakan masker, mereka dengan sukarela melakukannya. Mereka mungkin sesekali lupa, tapi saat diingatkan, mereka mau patuh--bukan nyolot. Nah, jika kamu sebaliknya malah nyolot, simpel, kamu bukan pembaca sejati buku2 Tere Liye. Sia2 saja tulisan itu kamu baca.


*Tere Liye, penulis novel 'Negeri Para Bedebah'


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear Tuan, Nyonya

Ketahui 4 Penyebab Timbulnya Rasa Sakit Saat Berhubungan Intim